Showing posts with label Psikologi Umum :). Show all posts
Showing posts with label Psikologi Umum :). Show all posts

Sunday, 6 May 2012

Coping With Sress



Coping adalah upaya yang dilakukan oleh individu untuk mengatasi sumber stres dan mengontrol reaksi mereka terhadapnya.

Effective Coping
Metode efektif dalam menghapus sumber stres atau mengontrol reaksi kita terhadapnya adalah :


-Removing Stress

Salah satu cara efektif dalam mengatasi stres adalah dengan cara menghapus sumber stres dari kehidupan kita.  
Dalam berbagai cara, mengatasi stres dapat dilakukan dengan mencari sumbernya terlebih dahulu lalu kemudian menghilangkannya. 
Namun dalam kenyataannya tidak semua sumber stres layak/sesuai untung dihilangkan, misalnya keluar dari pekerjaan, bercerai, kematian pasangan.

Contoh :
Apabila seorang pegawai mengalami stres dengan pekerjaannya tentunya ia dapat mendiskusikan hal ini dengan bosnya, namun berdasarkan poin removing stress ini cara terbaik adalah dengan mengundurkan diri.


-Cognitive Coping

Kognitif kita sangat erat kaitannya dengan reaksi kita terhadap stres.
Metode yang digunakan dalam cognitive coping ini adalah Reappraisal. 
Reappraisal adalah mengubah pola pikir atau pandangan seseorang terhadap sebuah peristiwa yang berpotensi menimbulkan stres dengan tujuan untuk mengurangi tingkat stresnya.

Contoh :
Ada seorang musisi yang album perdananya meledak di pasaran, namun ketika album keduanya keluar terjadi penurunan penjualan yang sangat drastis. 
Hal ini membuatnya hampir stres karna ia berpikir bahwa ia bukanlah musisi berbakat dan kesuksesan album perdananyaitu hanyalah kebetulan. 
Menurut metode reappraisal, yang harus dilakukan adalah merubah pandangannya tersebut ke arah yang positif, yaitu misalnya menganggap bahwa kegagalannya di album kedua ini merupakan hal biasa dalam dunia musik, dan hal ini bisa menjadi cambuk baginya untuk menghasilkan karya-karya yang lebih baik lagi.

Banyak individu yang berpasrah dalam agama dalam mengatasi stresnya. 
Contoh : penelitian di daerah Latin terhadap penderita radang sendi menunjukkan bahwa orang yang menganggap penyakitnya adalah bagian dari rencana Tuhan memiliki kesehatan psikologis yang lebih tinggi daripada orang yang kurang dalam beragama.


-Managing Stress Reactions

Ketika sumber stres benar-benar tidak dapat dihapus,opsi efektif lainnya adalah dengan cara me-manage psikologis kita dan reaksi psikologis kita terhadap stres.

Contoh :
Seseorang akan memulai sebuah usaha baru. 
Hal ini tentunya dapat mengakibatkan terjadinya kesibukan yang sangat berarti. Kesibukan ini dapat memicu terjadinya stres. 
Dan jika mengikuti metode removing stress itu artinya ia harus menutup tokonya karna sumber stresnya itu dalah tokonya. 
Nah, disinilah baru muncul istilah dimana sumber stres tidak dapat benar-benar dihapus. Maka cara yang efektif untuk mengatasi stresnya menurut metode Managing Stress Reactions ini adalah dengan cara iya harus dapat me-manage waktu. 
Ia harus bisa membagi waktunya, dan meluangkan waktunya untuk melakukan hal-hal yang ia senangi. 
Dengan begitu stresya dapat berkurang.




Ineffective Coping

Banyak usaha yang dilakukan dengan tujuan untuk  menghilangkan stres namun hasilnya tidak efektif. 
Usaha itu mungkin hanya memberikan bantuan yang bersifat temporary terhadap penurunan stres namun tidak memberikan solusi jangka panjang. 
Dan bahkan justru dapat membuatnya menjadi semakin parah.
3 contoh ineffective coping yang umum dilakukan adalah :

1.Withdrawal

Mengatasi stres dengan cara menarik diri/menyerah pada masalah yang ada.

Contoh :
Ada seorang anak yang baru memasuki dunia kuliah. 
Ia mengalami kesulitan dalam memahami materi perkuliahan. 
Ketika ia belajar di malam hari, ia justru menjadi semakin stres karna tidak dapat memahami materi itu. 
Kemudian ia berusaha menghilangkan stresnya itu dengan cara bermain game, bertelepon ria, dan hal-hal lain yang ia senangi. 
Hal ini tentunya menggambarkan bahwa ia menarik diri/menyerah dari permasalahan yang ada. 
Sebenarnya hal ini bukan masalah apabila ia memainkan game itu hanya dalam rangka refreshing sesaat. 
Yang menjadi masalah adalah apabila ia memainkan game itu dalam waktu yang sangat lama.



2.Aggression

Reaksi yang umum dari kadaan frustasi adalah adalh aggression yaitu melakukan semacam penyerangan atau kemarahan yang sangat besar terhadap penyebab masalah.

Contoh :
Seorang wanita selalu gagal dalam merebut hati orang yang disukainya meskipun ia telah melakukan berbagai cara, maka tiba-tiba ia dapat menjadi sangat benci terhadap pria itu.
Seorang anak tidak kunjung dapat membuat gambar yang ia inginkan meskipun ia telah berulang-ulang melakukannya, tiba-tiba ia langsung melempar buku gambar dan semua peralatan menggambarnya.



3.Self-Medication

Mengatasi stres dengan cara menggunakan tembakau, alkohol, dan narkotika lainnya. Meskipun alkohol dapat mengurangi kecemasan secara temporer, ia tidak dapat menghilangkan sumber stres dan sering menyebabkan masalah dalam hubungan, belajar, performa kerja, dan kesehatan dimana dapat menyebabkan hal-hal itu memburuk dalam jangka panjang.

Pengobatan diri sendiri dengan cara mengonsumsi alkohol dan narkotika adalh metode yang paling buruk. 
Sebenarnya mereka dapat berkonsultasi kepada psikolog yang berkompeten untuk mengurangi stress, namun karena takut akan stigma yang menganggap bahwa orang yang berkonsultasi adalah orang yang mengalami gangguan mental maka mereka lebih memilih menyelesaikan masalahnya sendiri yaitu denagn cara menggunakan alkohol dan narkotika tadi.


Sumber :

Lahey, Benjamin B . (2007) . Psychology an Introduction . New York : McGraw-Hill.

Tuesday, 1 May 2012

Contoh Kasus James- Lange Theory of Emotion


Bloggers !

Kali ini saya ingin memberikan contoh kasus dari sebuah teori dalam pembahasan tentang Emosi. 

Yaitu tentang James- Lange Theory of Emotion.

Teori ini menyatakan beberapa poin, yaitu :

-Menyatakan bahwa emosi merupakan hasil dari keadaan fisiologis yang muncul akibat dari sebuah stimulus di lingkungan.

-Perubahan fisiologis yang berbeda terlihat pada denyut jantung, pola pernapasan, keringat dan respon-respon lainnya.

-Bentuknya :
Stimulus  >>>  Reaksi fisik  >>>  Emosi

Nah, berikut ini contoh kasusnya yang sengaja saya sesuaikan dengan masalah sehari-hari.

Ketika SMA, pada beberapa mata pelajaran sering ada tugas untuk menghapal. Misalnya menghapal nama-nama zat kimia pada pelajaran kimia. 
Nah, sang guru mengatakan bahwa ia akan menanyakan hapalan itu kepada para murid yang dipilihnya secara random. 
Beliau memberikan waktu satu hari. 
Dan pada saat itu saya lupa untuk menghapalnya. 

Keesokan harinya guru sayapun menagih hapalan kami. 
Ketika dipilih secara random, ternyata naman yang dipanggil itu adalah nama saya. 

Nah, ketika itulah terjadi James-Lange Theory of Emotion.

Ketika nama saya dipanggil, itu merupakan stimulus lingkungan.

Kemudian yang menjadi reaksi fisik saya adalah seketika jantung saya langsung berdetak kencang dan mulai terasa seperti sesak napas.

Dan pada akhirnya emosi yang terjadi adalah rasa cemas dan rasa takut.

(Nama saya dipanggil >>> jantung saya berdetak lebih cepat >>> timbul rasa cemas dan takut)

Oke, gimana tema-teman ?
Saya yakin kita semua pasti punya pengalaman masing-masing.
Silahkan bagi yang ingin berbagi :)

Sumber :

Lahey, Benjamin B . (2007) . Psychology an Introduction . New York : McGraw-Hill.

Mastery Goals, Performance Approach Goals, dan Performance Avoidance Goals

Bloggers, 

kali ini saya ingin memberikan contoh kasus dari sebuah poin dalam pembahasan masalah Motivasi.

Motivasi itu sendiri seperti kita dalam melakukan suatu tindakan.
Nah, di dalam pembahasan motivasi ini ada yang dikenal dengan tiga elemen kunci dalam motivasi untuk mencapai keberhasilan dalam belajar, yaitu :

-Mastery Goals.
Menguasai sesuatu hingga tuntas

-Performance Approach  Goals
Bertujuan untuk menampilkan penampilan terbaik.

-Performance Avoidance Goals
Bertujuan sebagai pencegah terjadinya sebuah konsekuensi.

Hmmm, agar teman-teman lebih memahaminya berikut ini saya berikan contoh yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari.


-Mastery Goals

Saya mempunyai hobi menggambar, pada masa anak-anak dulu saya paling sering menggambar tentang pemandangan alam. 
Namun seiring dengan bertambahnya usia, minat saya terhadap sebuah objek untuk dituangkan dalam gambar menjadi berubah. 
Dari tema tentang pemandangan alam menjadi tema bangunan, lebih tepatnya menggambar/mendesain rumah. 

Nah, sayapun memiliki motivasi untuk terus belajar hingga saya dapat menguasai hingga tuntas cara menggambar /mendesain rumah itu. 
Hal inilah yang mendorong saya hingga saat ini untuk terus belajar agar suatu saat nanti saya benar-benar bisa menjadi mahir dalam mendesain rumah.



-Performance Approach Goals

Masih berhubungan dengan hobi menggambar saya. 
Di masa anak-anak dulu saya sering mengikuti lomba menggambar, baik yang diseleenggarakan oleh sekolah maupun yang diselenggarakan oleh umum. 

Nah, ketika lomba berlangsung, saya termotivasi untuk menggambar serapi dan sebagus mungkin. 
Tujuannya yaitu adalah untuk menghasikan gambar terbaik agar bisa jadi pemenang. Meskipun pada akhirnya belum tentu menjadi pemenang, namun motivasi itu sangat bermanfaat dalam memacu semangat kita.



-Performance Avoidance Goals
Di masa anak-anak dulu, saya sering bermain perang-perangan. 
Namun yang saling berperang itu bukan saya, melainkan mainan-mainan saya yang telah saya setting posisinya terlebih dahulu. 
Setelah bermain, keadaan akhir yang terjadi biasanya adalah kondisi ruang tamu yang sangat tidak karuan diamna mainan-mainan saya telah berserakan di ruang tersebut. 

Nah, untuk mencegah kemarahan Ibu, setelah puas bermain saya langsung termotivasi untuk segera membereskan  mainan tersebut. 
Tujuannya yaitu untuk mencegah kemarahan Ibu.


Oke, begitulah teman-teman.
So, yang mana nih yang paling sering teman-teman alami ? hehe



Sumber :

Lahey, Benjamin B . (2007) . Psychology an Introduction . New York : McGraw-Hill.

Monday, 9 April 2012

Contoh Kasus Tacit, Fluid, dan Crystallized Inteligensi




Hai Bloggers !
Kali ini saya ingin memberikan contoh kasus tentang Tacit Inteligensi, Fluid Inteligensi, dan Crystallized Inteligensi.
Langsung aja ya,

-Tacit Inteligensi
Kemampuan dalam memecahkan masalah-masalah yang bersifat praktis.
Contoh kasus :   
Dari dulu, saya adalah orang yang sangat hobi menggambar, hampir setiap hari saya pasti menggambar. Oleh karena itu maka kebutuhan akan peralatan menggambar tentunya sangat besar. Saya jadi sangat memerlukan pensil, buku gambar, rautan, dan penghapus. Nah, berhubung saya juga termasuk orang yang ceroboh, maka saya sangat sering kehilangan penghapus. Jika hal itu terjadi saya biasanya akan menggantinya dengan karet gelang yang kebetulan berada tidak jauh dari posisi saya duduk.
Nah jadi, pada  situasi itulah Tacit Inteligensi berperan, dimana secara praktis saya dapat langsung memecahkan permasalahan yang ada.

 -Fluid Inteligensi
Kemampuan untuk mengatasi hal-hal baru dalam kehidupan
Contoh kasus :
Masih berhubungan dengan hobi menggambar saya, pada awalnya saya hanya menggambar tentang desain-desain rumah. Sehingga saya sudah sangat terbiasa dalam menggambar rumah. Namun lama kelamaan ketika saya sudah mulai tertarik dengan handphone, saya jadi merasa tergerak untuk mulai menggambar desain handphone. Disini saya benar-benar melakukan hal baru.
Dalam situasi itulah Fluid Inteligensi berperan, yaitu kemampuan saya untuk mengatasi hal baru.

-Crystallized Inteligensi
Kemampuan seseorang untuk mengatasi masalah yang sudah pernah terjadi sebelumnya.
Contoh kasus :
Berhubung handphone saya umurnya sudah lumayan tua, maka tak heran kalau ia sering mengalami masalah. Masalah yang pernah terjadi adalah handphone ini menjad benar-benar ‘lemot’, loading yang lama ketika menghidupkan, dan beberapa masalah lainnya. Di awal-awal dulu, yang saya lakukan adalah me-master reset-kan handphone saya ini. Dan ternyata hasilnya memuaskan, masalah-masalah yang muncul tadi langsung teratasi. Kemudian beberapa waktu yang lalu saya mengalami masalh yang sama. Hanphone saya kembali mengulah, namun kini saya sudah tidak bingung lagi. Karena saya sudah pernah mengalami hal ini sebelumnya maka saya langsung saja me-master reset-kan handphone saya.
Nah, di situasi tiulah Crystallized Inteligensi itu berperan, dimana saya bisa mengatasi masalah yang sudah pernah terjadi sebelumnya.
Demikianlah review saya seputar pembahasan Inteligensi.
Semoga bermanfaat :)




Sumber :


Lahey, Benjamin B . (2007) . Psychology an Introduction . New York : McGraw-Hill.

Sunday, 25 March 2012

Contoh Cara Kreatif Pemecahan Masalah Menurut Wallas



Hai teman-teman blogers !

Kita ketemu lagi dan kali ini saya akan kembali bercerita tentang dunia psikologi tepatnya tentang proses kognisi. Berhubung pembahasan kognisi itu banyakkk,  hehe.. maka saya akan mengambil bagian tentang 4 cara kreatif pemecahan masalah menurut Wallas.

Langsung aja ya...
Cekidot !
:)


# Kasus
Saya termasuk orang yang sangat jarang pergi ke warnet untuk mengerjakan tugas ataupun sekedar mengetik. Nah kemudian semenjak kuliah ini banyak tugas yang mengharuskan tugas itu untuk dikirim via email. Jadi beberapa waktu yang lalu ketika saya belum memiliki laptop, yang saya lakukan untuk mengerjarjakan tugas itu adalah dengan cara mengetiknya melalui handphone, selesai diketik di handphone barulah saya membuka internet melalui handphone saya kemudian saya tinggal mengopi-pastekannya. Akhirnya tugas sayapun dapat terselesaikan tanpa harus menggunakan laptop.


# Pertanyaan
Bagaimanakah proses cara-cara alternatif/kreatif  tersebut bisa terjadi dalam sudut pandang psikologi ?


# Pembahasan
Kali ini saya membahasnya berdasarkan materi Cognitif.
Dalam pembahasan Cognitif, ada yang dikenal dengan 4 langkah pemecahan masalah menurut Wallas.
Yaitu :
-Preparation
-Incubation
-Illumination
-Verification

Preparation adalah masa-masa pengumpulan data atau info-info

Incubation adalah masa ‘diam sejenak’ kita ketika telah memperoleh data/info yang diperlukan maksudnya adalah untuk merenungkan/memikirkan tentang apa yang bisa dibuat/dilakukan dengan data-data tersebut.

Illumination adalah suatu keadaan ‘AHA !’ , yaitu suatu kondisi dimana kita telah menemukan ide tentang apa yang bisa diperbuat dengan data-data tersebut.

Verification adalah tahap dimana kita menguji ide yang kita temukan tersebut sesuai atau tidak, berguna atau tidakdalam memecahkan masalah yang seddang kita hadapi itu.

Nah, sekarang saya akan menguraikan kasus saya tersebut berdasarkan 4 langkah tersebut.


Pertama, yang menjadi masalah yang ingin dipecahkan adalah bagaimana cara saya dapat mengerjakan tugas tanpa menggunakan laptop.


Kedua, masuk ke tahap preparation. 
Pada tahap ini saya mulai menjelajahi fitur-fitur/opsi-opsi yang ada di menu ‘Pesan’ handphone saya. 
Saya melihat-lihat apakah ada opsi yang sesuai dengan kebutuhan saya ini. 
Akhirnya saya menemukan opsi copy-paste.


Ketiga, masuk ke langkah Incubation. 
Disini saya berdiam sejenak untuk merenungkan/memikirkan bagaimana memanfaatkan opsi copy-paste tadi.


Keempat, saya masuk ke langkah Illumination. 
Yaitu keadaan saya menemukan ide tentang apa yang harus saya perbuat dengan opsi tadi. Yaitu saya bisa mengetik terrlebih dahulu data-data tugas saya itu seperti ketika mengetik sms. 
Setelah selesai, saya bisa menggunakan opsi copi tadi. 
Setelah itu saya bisa membuka internet dari handphone kemudian saya membuka alamat email saya. 
Lalu saya tinggal mempastekannya. Namun perlu diketahui bahwa langkah-langkah yang saya sebutkan barusan masih merupakan rencana dalam artian belum di lakukan.


Kelima, di tahap inilah saya melakukan rencana-rencana tadi. 
Jadi intinya di tahap ini saya melakukan pengujian apakah ide tadi benar-benar bekerja/berguna. 
Dan ternyata saya berhasil, akhirnya masalah saya tersebutpun terpecahkan.

Demikianlah pengalaman saya seputar proses Cognitif.

Semoga bermanfaat  :)


Referensi :

Lahey, Benjamin B . (2007) . Psychology an Introduction . New York : McGraw-Hill.

Thursday, 22 March 2012

Review dan contoh kasus Memori dalam pandangan Psikologi

Assalammu'alaikum Bloggers  :)

Kita bertemu lagi, hehe..
kali ini masih seputar dunia psikologi, saya ingin memberikan contah sederhana dari masalah memori.
teman-teman sudah tau kan tentang memori ?
Ayo langsung aja,
Cekidot !



Kasus
Saya sering lupa meletakkan sebuah benda, hal ini terjadi apabila ketika akan menyimpan benda itu  Saya juga sedang melakukan hal yang lain misalnya sedang berbicara dengan orang lain. Nah biasanya setelah selesai mengobrol saya akan lupa dimana saya menyimpan benda tadi. Benda tersebut misalnya adalah lembaran kertas. Saya akan sangat kesulitan untuk menemukan benda itu lagi.
Contoh lainnya adalah apabila saya tidak tau nomor seseorang, saya akan menanyakannya kepada teman melalui sms. Kemudian teman sayapun memberikan sms balasan yang berisi nomor handphone teman yang saya minta itu. Nah, untuk menambahkannya ke daftar kontak memang ada berbagai cara tergantung dari jenis ponselnya. Ada yang bisa langsung dicopy paste namun ada juga yang harus secara manual. Biasanya dengan cara mencatatnya dulu padda kertas lalu baru ditambahkan ke daftar kontak. Namun karena tidak ingin ribet, biasanya saya lebih memilih untuk menghafalkannya sejenak. Setelah  hafal barulah saya tambahkan ke daftar kontak.
Selain itu ada lagi contoh lain yaitu saya dapat mengingat setiap detil yang ada di rumah saya yang dulu padahal saya sudah meninggalkan rumah itu hampir 4 tahun. Setiap ruangannya, perabot-parabotnya, dan juga kedaan tetangganya.

Pertanyaan
# Mengapa ada informasi yang benar-benar sulit untuk diingat dan mengapa pula ada informasi yang dapat diingat dengan sangat jelas meskipun itu sudah manjadi kenangan ?
# Mengapa bisa berbeda ?

Pembahasan
Sebelumnya kita harus tahu bahwa ingatan-ingatan itu termasuk dalam memori.
Memori adalah suatu proses mental yang meliputi proses perekaman , penyimpanan, dan pamanggilan kembali informasi atau pengalaman masa lalu.

Teori Tahapan Memori
1.       Sensory Register

# Tahapan pertama dari memori yang menagkap / menerima informasi sensori (berupa visual, auditori, dan sentuhan).
# Pada tahap ini juga terdapat pendataan informasi yang baru diterima indera.
# Memiliki kapasitas yang unlimited namun waktu penyimpanan informasinya < 10 detik.
# Disebut unlimited karena dalam satu kondisi kita bisa menerima banyak  rangsang dari berbagai indera sekaligus.
# Jika informasi itu dianggap penting maka akan disimapan tetapi jika tidak dianggap penting akan dibuang.
2.       Short Term Memory
# Tahapan kedua dari memori diman informasi yang diperoleh tidaak disimpan dalam waktu yang lama. Yaitu hanya sekitar 15-20 detik.
# Jumlah  dan lama penyimpanan informasi juga terbatas.
# Jika ingin menjadi LTR harus dilakukan pengulangan .
3.       Long Term Memory
# Tahapan ketiga dimana informasi disimpan dalam waktu yang lama.
# Kapasitas penyimpanannya lebih besar dan bersifat permanen.

Kaitan dengan masalah saya
Kebiasaan saya yang sering lupa meletakkan benda jika sedang berbicara dengan orang lain termasuk dalam tahapan Sensory Register dimana informasi itu hanya tersimpan <10 detik, karena pada keadaan itu (ketika akan menyimpan kertas) saya sedang menerima banyak stimulus dari indera lainnya seperti indera pendengaran dan penglihatan. Oleh karena itulah maka informasi yang saya terima itu jadi sangat mudah untuk ‘terbuang’.
Kemudian, masalah saya yang berikutnya yaitu tentang mengingat nomor handphone teman termasuk contoh dari short term memory dimana dengan menghafalkannya sejenak, saya dapat mengingat nomor itu, namun memang ingatan itu tidak akan bertahan lama. Dan jika benar-benar ingin mengingatnya saya harus menghafalkannya secara beruang-ulang.
Contoh terakhir tentang saya yang masih dapat dengan jelas mengingat detil rumah saya yang dulu termasuk dalam long term memori. Sesuai dengan cirinya tadi, long term memory informasi-informasi dalam tahap ini dapat tersimpan dalam kapasitas yang besar dan disimpan dalam waktu yang sangat lama atau bisa dianggap permanen. Maka pantas sajalah saya masih dapat dengan jelas mangingat tiap detilnya.

Demikianlah beberapa contoh masalah dalam kehidupan sehari-hari saya yang berkaitan dengan memori.
 Semoga Bermanfaat :))




Sumber :


Lahey, Benjamin B . (2007) . Psychology an Introduction . New York : McGraw-Hill.

Sunday, 11 March 2012

Review dan Contoh Kasus Operant Conditioning

Hai bloggers !
Kali ini saya hadirkan kembali contoh fenomena di keseharian kita dalam kaitannya dengan dunia psikologi.

Tak usah panjang lebar,
Langsung aja,
Cekidot !


Review dan Contoh Operant Conditioning

¤ Kasus :
Saya termasuk orang yang jarang menyetrika pakaian yang hanya digunakan untuk dirumah. Dan untuk pakaian yang akan digunakan kuliah / berpergian lainnya pun saya hanya menyetrika sebatas yang diperlukan saja.
Namun pada suatu hari saya ingin mencoba hal baru yaitu menyetrika di pagi hari karena saya mulai merasa malas menyetrika di malam hari. Tapi ternyata dipagi hari terjadi kejadian yang paling saya takuti yaitu padamnya listrik. Saya pun menjadi panik dan akhirnya pergi dengan pakaian yang tidak disetrika untungnya pakaian tersebut memang tidak terlalu kusut. Dengan adanya kejadian itu, saya bertekad untuk tidak mengulangi hal itu lagi. Keesokan harinya saya kembali menyetrika dimalam hari karena takut kejadian itu terulang kembali.

¤ Pertanyaan yang Muncul :
-Mengapa saya kembali menyetrika di malam hari ?
-Mengapa saya tidak meneruskan menyetrika di pagi hari ?
-Apa yang terjadi ?

¤ Penjelasan dari Sudut Pandang Psikologi :

Kasus saya tersebut juga termasuk belajar.
Namun kali ini dalam konteks Operant Conditioning.
Operant Conditioning adalah kondisi belajar dimana konsekuensi dari perilaku yang kita lakukan itulah yang menentukan apakah ke depannya kita akan meneruskan perilaku itu atau akan menghentikannya.

Dalam Operant Conditioning ada yang disebut :
- Positive Reinforcement = perilaku yang menghasilkan konsekuensi positif.

- Negative Rein forcement = perilaku yang menghasilkan konsekuensi negatif yang kemudian mendorong kita untuk menghindarinya.

- Punishment = hukuman atas perilaku negatif yang dilakukan.

Dan dalam Negative Reinforcement ada 2 tipe kondisi :

- Escape Conditioning = perilaku yang timbul untuk menghilangkan konsekuensi negatif.

- Avoidance Conditioning = perilaku yang timbul untuk menghindari konsekuensi negatif.

Nah, kasus saya tersebut merupakan contoh dari Negative Reinforcement.
Perilaku saya yang menyetrika pakaian di pagi hari ternyata mendatangkan konsekuensi yang negatif, yaitu saya pergi dengan memakai pakaian kusut.
Karena itulah akhirnya saya menghentikan perilaku itu.
Kemudian hal itu dikaitkan lagi dengan kondisi Avoidance Conditioning, dimana saya menghindari konsekuensi negatif itu dengan cara memilih jalan lain yaitu menyetrika dimalam hari.

Nah, kembalinya saya menyetrika di malam hari ini kemudian menjadi bentuk contoh dari Positive Reinforcement.
Menyetrika di malam hari mendatangkan konsekuensi positif yaitu saya selalu pergi dengan rasa nyaman karena pakaian telah rapi.
Karena efek positif itulah akhirnya saya meneruskan perilaku tersebut.

Jadi, kesimpulan dari kasus saya tersebut adalah bentuk dari Operant Conditioning ( belajar dari konsekuensi yang ditimbulkan) dan termasuk dalam Negative Reinforcement karena menyetrika di pagi hari ternyata mendatangkan konsekuensi yang negatif.
Meskipun pemadaman listrik tidak terjadi setiap hari, saya telah bertekad untuk tidak mau lagi menyetrika di pagi hari agar terhindar dari konsekuensi negatifnya. Kasus saya tersebut juga berkaitan dengan Avoidance Conditioning yaitu menghindari konsekuensi negatif dengan cara mencari jalan lain yang ditunjukkan dengan kembalinya saya menyetrika di malam hari.
Dan kembalinya saya menyetrika di malam hari itu juga termasuk ke dalam Positive Reinforcement karena mendatangkan konsekuensi positif.

Demikianlah review dan contoh kasus saya mengenai Operant Conditioning.
Semoga bermanfaat ..
:)

Lahey, Benjamin B . (2007) . Psychology an Introduction . New York : McGraw-Hill.

Review dan Contoh Kasus Classical Conditioning

Hai bloggers !
Kali ini saya akan berbagi pengetahuan seputar dunia psikologi, dan saya akan berusaha menjelaskannya dengan fenomena yang biasa kita temui sehari-hari.

Penasaran ?
Cekidot !
:)


Kasus :

Saya termasuk penggemar dari panganan yang bernama Putu Bambu. Hampir setiap hari, tepatnya jika saya sedang di rumah, saya pasti membelinya.
Penjual putu bambu tersebut menjajakan dagangannya dengan cara berkeliling dengan menggunakan gerobak dorong. Dan sebagai penanda/penarik perhatian, biasanya gerobak itu mengeluarkan sebuah bunyi. Bunyi itu merupakan bunyi uap air yang keluar dari corong bambu dan terdengar seperti bunyi air yang mendidih dalam teko. Bunyi itu juga memiliki radius jangkauan yang lumayan besar.
Nah, di saat-saat awal dulu, saya keluar dari rumah untuk membelinya hanya jika penjual putu bambu itu telah berada hampir di depan rumah.
Namun, lama kelamaan saya terbiasa dengan bunyi yang dikeluarkan oleh penjual itu. Dan akhirnya sekarang ini hanya dengan mendengar suaranya saja saya langsung bergegas keluar rumah.

Mengapa hal ini terjadi ?
Mengapa dulu saya hanya keluar untuk membeli jika penjualnya telah di depan rumah ?
Dan mengapa pula sekarang hanya dengan mendengar suaranya saja saya langsung bergegas keluar ?

Berikut ini adalah penjelasannya dari sudut pandang Psikologi.

Kasus tersebut merupakan sebuah bentuk belajar.
Belajar itu sendiri adalah perubahan perilaku yang relatif permanen yang di bentuk melalui pengalaman.
Dalam kasus ini, belajar yang dimaksud adalah Classical Conditioning.

Nah, dalam Classical Conditioning, terdapat Terminology of Classical Conditioning, yaitu :

- Unconditioned Stimulus (UCS).
Agar mudah dipahami UCS ini dijelaskan sebagai rangsangan / stimulus alami.

- Unconditioned Response (UCR).
Merupakan respon alami dan merupakan pasangan dari stimulus alami.

- Conditioned Stimulus (CS).
Merupakan stimulus yang tidak mempunyai pasangan respon, atau disebut stimulus netral.

- Conditioned Response (CR).
Adalah hasil belajar dimana pada akhirnya CS mampu menghasilkan UCR.

Berikut adalah proses hingga dihasilkannya CR :

1. UCS menghasilkan UCR.

2. CS dipasangkan dengan UCS lalu menghasilkan UCR dimana biasanya CS yang duluan hadir baru kemudian hadir pula UCS.

3. Setelah melalui proses belajar, akhirnya tanpa bantuan UCS, CS dapat menghasilkan UCR.

Sekarang kita masuk ke dalam pembahasan masalah saya tadi.
Berdasarkan masalah saya :

- Yang menjadi UCS adalah penjual Putu Bambu.
- UCR adalah saya keluar dari rumah untuk membeli putu bambu.
- CS adalah bunyi uap air dari gerobak.
- CR adalah kondisi dimana pada akhirnya hanya dengan mendengar uap air saja saya langsung keluar rumah untuk membeli putu bambu.

Jadi, begini proses terbentuknya CR :

1. Pada awalnya penjual putu bambu (UCS) menghasilkan respon pada diri saya berupa tindakan saya keluar rumah untuk membelinya (UCR).

2. Lama kelamaan saya terbiasa dengan suara uap air (CS) dimana tak lama dari munculnya suara itu biasanya penjual putu bambu itu juga muncul (UCS) dan sayapun keluar dari rumah untuk membelinya (UCR).

3. Setelah kurang lebih seminggu, akhirnya saya benar-benar terbiasa dengan suara uap air itu (CS), sehingga hanya dengan mendengar suaranya saja (CS) saya sudah langsung bergegas keluar rumah untuk membelinya (UCR).

Begitulah proses terbentuknya UCR. Dan kondisi akhir itulah yang disebut dengan Conditioned Response (CR).

Jadi, kesimpulannya masalah saya tadi merupakan bagian dari Classical Conditioning dimana perilaku yang terjadi pada diri saya berasal dari proses belajar yang berdasarkan pada pengalaman.
Dan masalah itu dapat dijelaskan melalui konteks Terminology of Conditioning.

Demikianlah,
Semoga bermanfaat.
:)

Lahey, Benjamin B . (2007) . Psychology an Introduction . New York : McGraw-Hill.