# PEMBENTUKAN PERILAKU ( Positif Reinforcement )
Perilaku yang terbentuk : hobi menggambar
Proses :
Sedari saya kecil, kira-kira mulai usia 4 tahun, saya mulai
hobi mencorat-coret di buku tulis, dan corat-coret itu berbentuk gambar-gambar
abstrak.
Mungkin dari situ orang tua saya melihat bakat menggambar saya. Setiap
kali saya menyelesaikan sebuah gambar, mereka memuji saya dan kemudian memberi
saya hadiah berupa pensil, dan pensil warna.
Karena ada respon yang baik dan
adanya hadiah dari orang tua saya, saya menjadi lebih percaya diri untuk
melanjutkan hobi menggambar saya.
Dan akhirnya hingga saat ini saya menjadi
benar-benar hobi menggambar.
Adapun reinforcement dari orangtua saya itu adalah termasuk
positive reinforcement dan bentuknya
adalah variabel ratio, yaitu
orangtua saya memberikan saya hadiah tidak menunggu sampai jumlah respon
tertentu, misalnya saya tidak harus menyelesaikan 2 atau 3 gambar terlebih
dahulu.
# PENGHILANGAN PERILAKU ( Negative Reinforcement )
Perilaku yang hilang : bertengkar dengan adik.
Proses :
Dahulu ketika masih dalam masa-masa TK, saya sering
bertengkar dengan adik saya, kami sering saling pukul. Namun tentunya hal ini
membuat orangtua saya marah kepada saya.
Setiap terjadi pertengkaran, orangtua
saya selalu memarahi saya tidak peduli apakah itu kesalahan saya atau adik
saya. Setiap kali kami bertengkar, orangtua saya akan memarahi saya dan
mengurung saya di dalam kamar mandi yang kemudian lampunya sengaja dipadamkan.
Karena adanya konsekuensi yang seperti ini, maka semakin lama membuat saya
tidak ingin lagi melakukan pertengkaran dengan adik saya. Nah, karena adanya
konsekuensi yang tidak menyenangkan dari sebuah respon/tindakan yang saya
lakukan inilah maka pada akhirnya membuat saya tidak ingin lagi melakukan
tindakan itu dan artinya mampu menghilangkan perilaku tersebut.
Hal ini
termasuk pula dalam Negative
Reinforcement.
Adapun bentuknya termasuk pada fixed ratio, yaitu konsekuensi itu langsung saya dapatkan setiap
kali saya bertengkar dengan adik saya. ( 1 kali bertengkar langsung mendapat
konsekuensi).
# GENERALISASI
PERILAKU
Perilaku yang digeneralisasi : ketakutan dan kecemasan pada
pemuda asing menjadi ketakutan dan kecemasan pada oran asing.
Proses :
Saya sudah dua kali mengalami kejadian penodongan.
Yang
pertama kali ketika saya masih SMA, ketika itu saya di todong oleh dua orang
pemuda yang berwajah sangar, ketika itu saya kehilangan handphone saya.
Kejadian kedua terjadi ketika semester 1 yang lalu, ketika itu saya sedang
berangkat kuliah, di tengah jalan saya dicegat oleh dua orang pemuda juga,
mereka menodongkan pisau ke perut saya. Namun peristiwa itu berhasil di
gagalkan.
Namun meskipun gagal, saya tetap ketakutan.
Karena kejadian-kejadian tersebut, hingga kini saya menjadi
takut setiap kali bertemu atau berhadapan dengan seorang pria asing.
Jadi yang pada awalnya dulu saya hanya takut pada pemuda
asing berwajah sangar, saat ini saya akan sangat ketakutan apabila bertemu
dengan pria asing, tidak peduli apakah dia pemuda atau pria dewasa, sangar
ataupun tidak sangar.
Contohnya sekarang ini apabila saya sedang menunggu
angkutan umum kemudian ada seorang pria asing yang mengajak saya bicara entah
itu bertanya tentang jam, ataupun tentang jalur-jalur trayek angkutan umum,
maka sebenarnya pada saat itu saya sudah sangat ketakutan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa saya telah
melakukan generalisasi perilaku terhadap sebuah stimulus. Adapun perilaku yang
dimaksud adalah perilaku ketakutan dan cemas. Dan stimulusnya adalah pria atau
pemuda asing yang kebetulan saya temui.
Demikian semoga bermanfaat
J